rama's posts with tag: munir

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag munir
Marketplace ItemFor Sale: Famuk, Cak Nun, Pram Bicara Munir?Feb 18, '08 1:32 AM
for everyone
Category:   Books
Price:   Kasus Munir

Kegelisahanku selama ini mulai terjawabkan. Dengan ditemukan, divonisnya konspirator pembunuhan berencana Bung Munir. Tanpa sengaja aku ingat beberapa tulisan fiksi (My Name Is Rad , BH dan Rumah Kaca). Novel Orhan Famuk (My Name Is Rad/1998) diawal tulisannya menceritakan hal yang sama dengan yang menimpa Bung Munir “sebuah pembunuhan yang keji”, secara singkat saya dadarkan getirnya, berikut: “Temukan jenajahku, jangan ditunda lagi doakan aku, dan kuburkan aku. Dan yang lebih penting lagi, temukan pembunuhku! Karena meski kau menguburku di makam yang paling agung sekalipun, selama bajingan itu tetap bebas berkeliaran, aku akan mengeliat-geliat resah di dalam kuburku, menanti dan merasuki kalian semua dengan ketidakpercayaan. Temukan pembunuh laknat itu, dan aku akan menceritakan padamu secara terperinci tentang apa yang kulihat di alam kubu. Tetapi ketahuilah, setelah ia ditangkap, ia harus disiksa perlahan-lahan dengan membengkokan delapan atau sepuluh ruas tulangnya-aku lebih suka tulang rusuknya-sengan sebuah penjepit, sebelum melubangi kulit kepalanya dengan ganco yang dibuat khusus untuk menyiksanya yang menjijikan, helai demi helai, agar ia memekik kesakitan setiap kali dicabut.” Lukisan tersebut terasa memilukan, tapi aku orang yang tak yakin Bung Munir akan berlaku dendam seperti keinginan “Elok Effendi si sosok mayat” yang terbenam didalam sumur itu. Bung Munir tahu arti Hak-hak hidup dan kebebasan berpikir seperti yang telah dituangkan dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia. Tapi yang aku yakini, Bung Munir tetap akan berkata sama dengan sang mayat dengan berkata “Siapakah si pembunuh ini? Mengapa ia membunuhku dengan cara yang begitu mengejutkan? Bertanya-tanyalah, dan pikirkan baik-baik masalah ini.” Si mayat ini juga akan berkata sama bahwa “Kematianku menyembunyikan persekongkolan dahsyat terhadap agama kita, tradisi kita, dan cara kita memandang dunia ini.”

Benarkah ada persekongkolan? Kini tabir kejahatan mulai terungkap, ada Pollycarpus Budihari Priyanto, matan Pilot Garuda dengan 20 tahun penjara; Indra Setiawan, Mantan Direktur Utama Garuda Indonesia dengan 1 tahun penjara. Koran Tempo menulis laporanya “Indra Setiawan terbukti member bantuan kepada Pollycarpus melakukan pembunuhan berencana terhadap aktivis hak asasi manusia Munir”. Fakta persidangan adalah pada Juni-Juni 2004 Indra menerima surat dari Badan Intelijen Negara (BIN) yang diberikan kepada Polly. Surat yang kemudian hilang dicuri itu berisi permintaan BIN agar Polly ditempatkan sebagai aviation security sebagai kru axtra pada pesawat yang ditumpangi Munir. Hakim menilai, dengan penunjukan tersebut, Polly leleuasa menjalankan aksi intelejennya yang ditugaskan BIN. “Penugasan itu dipandang sebagai member sarana, kesempatan, atau keterangan melakukan kejahatan”. (Tempo, 12 Februari 2008)

Mungikin BIN punya otak yang sama dengan yang digambarkan dalam Cerpen BH-nya Emha Ainun Najib (2005) dalam judul Kepala Kampung, petinggi pengambil keputusan meyakini seperti Cak Nun menulis “Jadi sesungguhnya memang dibutuhkan satu tongkat komando yang kuat, mengerti dan penuh tanggungjawab seperti yang sepenuhnya kumiliki. Para anggota kampong lainnya sudah barang tentu diperbolehkan mengajukan usul atau ide-ide, tetapi sepenuhnya akulah yang pada akhirnya menentukan keputusan dan perintah. Sejarah telah lama membenarkan hal ini, baik secara prinsip maupun teknis”. Di bagian selanjutnya ada pernyataan “Maka setiap kotoran harus dihilangkan. Jangan takut, sesungguhnya Tuhan bersama kita, Nabi. Dia adalah contoh orang yang tidak pernah setengah-setengah. Dan segala yang kini kurencanakan, yakni pembasmian tikus-tikus itu, tiada laon ia mencontoh perbuatan luhur dan perkasa Nabi. Menurut sementara pamongku, tikus-tikus mentah itu sedang merencanakan serangkaian acara menendangku. Secara terang-terangan”. Pejabat BIN, Indra Setiawan, Polly dan ……. Mungkin “mengimani” karya fiksi Cak Nun tersebut. Hingga pada ujungnya konspirator pembunuh tersebut akan berkata sama “Lewat keluhuran nilai tugas dan tanggungjawab kita bersama atas pembangunan kampung ini, Tuhan telah menugaskan kepada kita untuk mengatasi dan memuskahkan setiap usaha penghambat pembangunan”. Nah, kalau sudah demikian “apa kata dunia?”

Ada sebuah keyakinan dalam hatiku, para perencana dan pelaku pembunuhan kini merana, kesepian dan sendiri. Bukan karena dinginnya tembok penjara yang entah berapa tahun, tapi seperti digambarkan Pramoedya Ananta Toer akan mewakili kegundahan mereka, ini ditulis pada Roman Terakhir dari Tertralogi Pulau Buru, Rumah Kaca hal. 617 “kehidupan tidak kembali seperti semula, karena hatiku menjadi sunyi. Aku hanya bakal mendapat pension sebagai balas jasa terhadap semua kehilanganku. Hanya pension! Bahwa melihat diriku sendiri dalam formasi pemerintahan sendiri aku tak mampu. Betapa kikirnya sang nasib padaku. Aku yang mengetahui segala-gala tentang organisasi pribumi”. Di halaman 639 ada juga yang pasti sama dialami mereka “si pembunuh Munir” ini cuplikannya “Dalam perjalanan ini desakan daarhku tak juga turun. Hanya dengan kekuatan kemauan saja aku masih dapat lakukan tugas ini. Dalam rongga telingaku terjadi dengungan dan desingan, peluit panjang dan pukulan-pukulan martil, seperti dalam bengkel keretaapi diwilayah stasiun. Penglihatanku terus berayun-ayun. Aku menduga desakan ini sudah tambah sepuluh lagi. Kakiku terasa dingin dan basah karena keringat. Aku mencoba mengingat sebaga sesuatu dari naskah-naskah Minke. Tetapi ingatan ini kadang-kadang tenggelam dalam kegelapan malam, kadang-kadang seperti kilat menembusi kegelapan itu. Biarpun begitu yang nampak dan tidak nampak tidak merupakan kesatuan tapi cerai-berai tidak menentu.”
Dan pada akhirnya “si pembunuh Munir” dihadapan Istri, sahabat dan relasi kerja akan sama dengan yang tertulis pada halaman 642 “Kau, Pangemanan, kau tak ubahnya dengan debu pada telapak sepatu Sanikem! Kau! Matanya telah menembusi otakmu, jantungmu, hatimu, ginjalmu. Hanya dengan pandang samping tanpa bicara kau sudah berantakan. Kau sudah tua. Apakah lagi hendak kau gagahi untuk dirimu sendiri? Tidak ada. Semua menentangmu. Semua. Juga nisan-nisan di hadapanmu itu. Kau, Pangemanan, yang pernah mendapat didikan baik di Eropa, terbaik yang bisa diberikan dunia dalam abad ini. Kau menunduki kuburan seorang yang jauh lebih muda dari padamu. Untuk kematian inikah semua didikan Eropa yang kau terima? Hanya inikah yang kau perbuat dalam hidupmu? Sedang Sanikem disebelahmu itu telah membangunkan apa saja yang dapat dibangunkan. Dan kau hanya menumbangkannya? Itupun tak semua yang dapat kau tumbangkan?.”
Diakhir, aku hanya berharap kepada para pembunuh, baik yang telah tertanggap, diadili, dibebaskan, dan masih berkeliaran diluar dapat menyerahkan diri, sebagai bukti pengakuan dosa atas hilangnya nyawa pejuang hak asasi manusia yang dimiliki bangsa ini. Berlakulah seperti Tuan Pangemanan diakhir Roman Rumah Kaca, ikutilah apa yang telah digariskan Pram pada ending tulisannya di hal. 646, “Tak perlu kiranya aku menjelaskan tentang selebihnya yang telah kulakukan itu; Madame sebagai wanita yang arif bijaksana dapat mengerti semuanya. Tentang kenyataan-kenyataannya cukuplah semua tertera dalam berkas catatanku Rumah Kaca ini, yang dengan rela kupersembahkan padamu. Madamelah hakimku. Hukuman aku terima, Madame.”
Benarkah ada kaitannya bacaan fiksi dan tontonan komik Detektif Konan bagi sang intelejen dengan keputusan & aksinya? Hingga kini mungkin belum ada yang pernah menelitinya. Anda tertarik? ©



Click a thumbnail to enlarge:
     


Photo AlbumMunir (13 photos)Feb 13, '08 3:03 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Pejuang HAM Indonesia

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help