Wasiat Diri? Awalnya aku hanya berfikir “akan meninggalkan apa ketika kematian telah datang” “dikenang anak, cucu, sahabat, kerabat, bahkan semua manusia bumi ?” “atau dibenci, dilupakan, dicaci sampai kematian pun menjadi berkah semua manusia?” Aku, tak bisa menjawab! Hanya bisa berlari dengan ilusi Terbang ke aras masa yang belum pasti Mengandai-andai, meraba, mencari celah, menerobos, menancapkan bendera “kemenangan” Dalam sebuah tujuan hidup Aku hanya sesekali bertanya pada diri Kadang dari kita bertanya: Mau kemana? Dengan siapa? Berbekal apa? Wasiat diri apa yang tertinggalkan? Kini, saat sebuah jawaban Awal harus menemukan akhir Putih yang bertemu hitam dan hitam bertemu putih Lahir yang bertemu mati karena mati adalah kalahiran Aku hanya berkaca pada diri Membaca langkah yang telah berlalu bersama debu Tak mau menggapai khayal yang tertabalkan di dinding malam Untu bergerak menggapai jawaban Ada sebuah nyata di depan mata Rama Prabu Bandung, 15 Juli 2008 Mungkin Anda Punya Wasiat Istimewa?
Diponegoro Di masa pembangunan ini Tuan hidup kembali Dan bara kagum menjadi api Di depan sekali tuan menanti Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali Pedang di kanan, keris di kiri Berselempang semangat yang tak bisa mati MAJU Ini barisan tak bergenderang-berpalu Kepercayaan tanda menyerbu Sekali berarti Sudah itu mati MAJU Bagimu Negeri Menyediakan api Punah di atas menghamba Binasa di atas ditinda Sungguhnpun dalam ajal baru tercapai Jika hidup harus merasai Maju. Serbu. Serang. Terjang. Chairil Anwar, Februari 1943
 Angkringan Jogjaku adalah angkringan Jogjaku adalah pendapa tamansiswa Jogjaku adalah pendopo Jogjaku adalah kemegahan sang agung kraton Jogjaku adalah tugu nol kilometer Jogjaku adalah merapi tangga langit Jogjaku adalah buih busa di pasir putih parang tritis Jogjaku adalah angkringan dimana aku bisa lepas memandang Dunia dari Jogjakarta Jogja, Jln. Tamansiswa 1 juni 2008
atas permintaan seorang sahabat tulisan yang belum terselesaikan dan tanpa judul ini akhirnya aku posting juga, sekadar untuk berbagi kangen sama kawan-kawan di Jogja. Bersama tiga orang sahabat Angkringan adalah pilihan tepat Mengangkat diri untuk berdebat Menertawakan titah diri untuk martabat Aktivitas sang aktivis yang kadang melarat Bersama tiga sahabat Angkringan adalah nafas kesatuan jiwa Dalam Jogja untuk menguji nilai bangsa Malam, 1 Juni 2008 In Jogja
Tragedi Monas
Tragedi Monas, Kekejaman Islam? Benarkah? Islamkah? Jihadkah? Atas Nama Ilahi-kah? Kita, menutup mata Yang Kuasa memendam kasus Yang Kuasa mengunci benci Pecah karena dipelihara Tangan Kuasa mandul Tangan Kuasa hilang senjata Tragedi kemanusiaa berkepanjangan Ada Negara dalam Negara Kita tahu Tapi tutup indra Pura-pura Tragedi Monas, segelintir Tragedi Semanggi, satu waktu Tragedi Talangsari, mungkin hanya masa lalu Tragedi Pembantaian PKI, hanya momok masa lalu Tragedi Kedung Ombo, terlupakan Targedi Operasi Mawar Kopasus, tertutup tabir Tragedi Cinta anggota DPR, bualan media massa Tragedi Moral Bangsa, tak terpikirkan penguasa Tragedi Unas, kekejaman polisi busuk Tragedi monas, kekejaman Islam? Benarkah? Mungkin hanya Sungokong atau dewa mabuk Menyerang saudara sedarah dan seiman Menumpahkan darah persaudaraan islam Haram hukumnya......! Entah, meraka Mungkin Habib yang maha suci Hakim hukum islam di muka bumi Atau Syeh goblok yang tak paham hukum Tragedi Monas, Ironi Bangsa Benar, 100 Tahun Kebangkitan 100 Tahun Kemunduran Peradaban Kemanusiaan Rama Prabu Bandung, 7 Juni 2008
100 Tahun, Bangkit? 100 tahun kebangkitan Nasional Kata mereka 100 tahun membangun bangsa Kata mereka 100 tahun mengokohkan nasionalisme Kata mereka 100 tahun penjajahan atas anak bangsa Kata kita 100 tahun mengenyam kemiskinan dan lapar Kata kita 100 tahun menanam menunggu panen Kata kita Petani, nelayan, buruh, kuli dan pengamen Berkata beda Pejabat, konglomerat, tentara dan polisi rakyat Berkata beda Mahasiswa, guru, pedagang Berkata besa 100 tahun dengan bahasa yang beda Sumpah Pemuda Indonesia Satu bangsa, satu bahasa, satu tanah air Kini berubah makna 100 tahun kedepan baru kita merdeka 100 tahun kedepan baru kita sejahtera 100 tahun kedepan baru kita adil 100 tahun kedepan baru kita makmur 100 tahun kedepan baru kita menjadi Indonesia Rama Prabu, 19 Mei 2008
Untuk Cina, Sungkawa! Untuk Cina dinegeri Tirai Bambu Yang berduka ditimpa gempa 15 ribu manusia menghadap Penguasa Alam Menangis semua, kerabat dan sahabat Untuk Cina yang sipit kedua matanya Ini adalah pelajaran, ini adalah rintih doa Untuk Cina dan untuk dunia Gempa Cina, Tsunami Aceh, Badai Tornado Amerika, Badai Nargis Burma, Banjir disemua bangsa Adalah jeda dan ujung sayap kehancuran dunia Bukti yang tersaksi, kuasa Tuhan atas Manusia dan Alam Untuk Cina, Indonesia turut berduka Banyak darah Cina terlahir di bumi ini Walau sekian “penjahat” bangsa berdarah sipit Kita sungkawa atas hilangnya nyawa Untuk Cina, buka hati dan mata Jangan tolak cinta sesama Kemanusiaan tak melihat ras dan kelompok Pun bangsa Kemanusiaan berbalut cinta Rama Prabu, 15 Mei 2008
LEBIH BAIK MATI MUDA Jika usia menua kapan waktu Dan aku tak berani menulis puisi Dengan jendela yang dibuka lebar Melihat kenyataan di luar rumah Tentang kebusukan yang memerintah Tentang kesemenaan yang berkuasa Tentang korupsi yang memimpin Tentang penindasan hak asasi Lebih baik matu muda Jika puisi berhenti berpijak Pada keperkasaan hati nurani Yang lahirkan kemauan mengasihi Tapi hanya umpatan-umpatan kesumat Dan pernyataan-pernyataan benci Dan ungkapan-ungkapan palsu Dan kalimat-kalimat marah Dan sumpah-serapah culas Lebih baik aku mati muda Jika tiada lagi hakekat cinta Yang mukim dalam hati manusia Sebagai harta kekayaan rohani Sebagai rahim dari sejati puisi Apa guna memanjang-manjang usia Tanpa memberi warisan pekerti Kecuali hanya menggantang asap Berharap yang kemarin kembali Lebih baik aku mati muda Jika puisi kehilangan kesungguhan Dan tidak punya kepercayaan diri Unttuk menyatakan cinta Untuk menyatakan peduli Untuk menyatakan hormat Untuk menyatakan syukur Untuk menyatakan maaf Untuk menyatakan iba Lebih baik aku mati muda (1971,hal 3, Puisi Mbeling Remy Sylado)
Diammu Bertanda Tanya
Diammu bertanda tanya Bibir indah menyaksi tabik-tabik aku Siang malam, tanpa henti Pembicaraan tanpa arah, tanpa tujuan Diammu bertanda tanya Kenapa, kemana, akan disampaikan Ribuan tanda, jutaan cinta Yang pernah ku berikan Padamu Diamu, membuka tabir Tirai-tirai dan sekat alam Mencari sebuah jawaban Akan cintaku padamu Diamu bertanda tanya Untuk apakah aku kau persunting Untuk apa kau titipkan benih dirahim suci ini Mengandung generasi? atau pemuas dimalam kelam Diammu bertanda tanya Kejujuran, kasih suci dan kepasrahan rahim Kau hargai dengan apa? Bandung, 12 Mei 2008
Kuhentikan Hujan
Kuhentikan hujan. Kini matahari merindukanku, mengangkat kabut pagi perlahan - ada yang berdenyut dalam diriku: menembus tanah basah, dendam yang dihamilkan hujan dan cahaya matahari Tak bisa kutolak matahari memaksaku menciptakan bunga-bunga. (Sapardi, 1980).
 | Sajak 27 | May 6, '08 11:03 PM for everyone |
Sajak 27 Ini tanggal kelahiranku, 27 tahun yang lampau 7 Mei menjadi tanggal bersejarah bagi hidupku Lebih dari Proklamasi dan Deklarasi apapun di dunia Aku menjadi manusia Seorang yang dengan gratis mengambil oksigen dari alam raya Kelahiran, awal sebuah perjalanan Ya….di dunia Karena kematian yang dituju bukan juga akhir dari perjalanan Lahir untuk batin Lahir untuk kemanusiaan Lahir untuk kebebasan Lahir untuk penebusan dosa Aku sering bertanya, hidup 27 tahu! angka seperempat abad lebih dua tahun Aku menginjakan kaki di bumi, berlindung di dinding langit Terkagum-kagum akan nikmat dan hikmah Tuhan Telah berbuat apa untuk bumi? Untuk langit? Untuk kemanusiaan? Untuk kehidupan? Untuk alam raya? Ah, aku hanya bisa menarik nafas panjang Aku hanya bisa meneguhkan dan memancang niat Prinsipku aku harus menjadi yang terbaik bagi semua pertanyaan itu Prinsipku aku tak akan biarkan jiwa dirampas oleh jiwa Prinsipku adalah keteguhan hati untuk mengabdi pada nurani, pada akal sehat Prinsipku adalah cinta yang tak berbatas bentuk dan ukuran untuk sesama Umur 27 dari jatah waktu Tuhan yang Maha Rahasia dan Merahasiahkan Telah mencatat baik dan buruk, telah menulis lurus dan bengkok Telah berjalan dalam pedih dan kegembiraan , telah berlaku dalam lurusnya iman dan gelimang dosa Semoga, kemunafikan dan nilai diri tak diukur dari harapan sorga Tuhan sang pengadil tahu yang terbaik bagi aku Kepasrahan jiwa, kepasrahan raga menjadi oase bagi kehidupan selanjutnya Bandung, 7 Mei 2008 Rama Prabu
SAJAK-SAJA EMPAT SEUNTAI /1/ kukirim padamu beberapa patah kata yang sudah langka.... jika suatu hari nanti mereka mencapaimu, rahasiakan, sia-sia saja memahamiku. /2/ ruangan yang ada dalam sepatah kata ternyata mirip rumah kita: ada gambar, bunyi, dan gerak-gerik di sana - hanya saja kita diharamkan menafsirkannya. /3/ bagi yang masih percaya pada kata: diam pusat gejolaknya, padam inti kobarnya - tapi kapan kita pernah memahami laut ? memahami api yang tak hendak surut ? /4/ apakah yang kita dapatkan di luar kata : taman bunga ? ruang angkasa ? d taman, begitu banyak yang tak tersampaikan di angkasa, begitu hakiki makna kehampaan. /5/ apa lagi yang bisa ditahan ? beberapa kata bersikeras menerobos batas kenyataan - setelah mencapai seberang, masihkah bermakna, bagimu, segala yang ingin kusampaikan ? /6/ dalam setiap kata yang kaubaca selalu ada huruf yang hilang - kelak kau pasti akan kembali menemukannya di sela-sela kenangan penuh ilalang. (Sapardi, 1989)
Tanah Bumi Yang Tetirah Dari Sorga Sudah ingin ku katakan Sejak pertemuan pertama itu Disudut cafe, Kuta Bali Ketika perjalanan baru mulai dilangkahkan Diamku karena diam kamu. Membeku, termangu tanpa menunggu Menyampaikan hal terindah Untukmu Putri Maha Dewa, dari tanah bumi yang tetirah dari sorga Aku, takan lagi pendam beku jiwa Biar musim berganti dan bertambah Mata hati, mata lahir dan mata kaki. Disini…! Berdiri, berlari secepat diri mengejar bayangmu yang terus menjauh didepan Hanya untuk katakan “maaf atas kejadian tadi malam’ Jiwamu telah menjadi jiwaku Darah bumi telah terlanjur masuk untukku Tak ada penyesalan untuk penyelesaian Cinta, untuk tanah para dewa. Rama Prabu Bandung, 25 April 2008
Anak Asu Kuliah Anak asu kuliah di tempat akeh asu Anak bagong kuliah ditengah manusia bagong Anak monyet kuliah di hutan monyet Anak dewa kuliah di khayangan Anak pejabat kuliah di Universitas Indonesia Anak koruptor kuliah di Indonesia Universitas Anak penjahat kuliah di LP Nusakambangan Haaaaa……dasar anak asu! Tetap asu biar tajir. Rama Prabu Bandung, 13 Maret 2008 Tulisan ini terinsfirasi dari kunjungan Kalla ke UI dan melihat mereka yang tajir disana.
 | Lintang | Mar 3, '08 3:41 AM for everyone |
Lintang Menatap sendu pagi itu Cantikmu dipandanganku Bening bersama tetes embun Bidadari berselendang putih Lintang ditatap teduhmu Ku rangkaikan kata untukmu Senyummu getarkan rasa ini Merona dihalus putih kulitmu Lintang panggilanmu Berharap cinta gadis desaku Cantik pribadi luluhkan hati sang pangeran Lintang Namamu indah Bersinarlah bersama pagi cerah Tebarkan senyum tersimpul kasih Gerak dilentik jemarimu Dikesederhanaan balut tubuhmu Lintang Puja jiwaku Tentramkan batin ini Ciamis, 20 Januari 06
Tulisan ini dibuat jauh hari sebelum anaku lahir yang akhirnya diberi nama Lintang Ayu Sastraningrum. Tulisan ini diambil dari Kumpulan buku Sajak LoveCode sebagai hadiah pernikahan aku dengan mantan pacarku (istriku).
Berkunjung ke Nirwana Seputih salju, sehitam tinta Hadirmu ditatap mataku Hadirmu diruang dalam Diranjang-ranjang kehidupan Kau seperti mutiara dalam asuhan kerang keindahan Kau hadir ketika ku inginkan Menari, membelai Seperi hadirmu diranjang-ranjang kemesraan Mutiara nan elok kau duduk sendiri Dipangkuan dewa asmara Kau tentram tak menolak Ketika sepasang tangan meremas jari-jemari Lentik kecil berbulu roma Membelai, meraba tanpa rontaan Tanpa teriakan Hanya desah dan napas yang saling memburu Bersama kicau burung nirwana Kau kalungkan selendang didekapan Sang dewa Bersama berkunjung ke nirwana keabadian Jogja indah, 09 Januari’05
 | Jingga | Feb 27, '08 11:26 PM for everyone |
Jingga
Jingga, kuning langsat raut wajahmu Yang tertatap tadi malam menjelang Kau lupa menutup pintu Hingga pagi membuka diri sendiri Jingga, malam-malam ini salju tak turun Tak temani, tak menyaksikan pena ini mulai kugoreskan kembali Mengenang…..darah dan air mata Lama tersimpan, enggan terbuka Jingga, kuning langsat raut wajahmu Memanggil kembali sepucuk surat Ditulis dengan darah dan air mata Tanpa doa tanpa salju Rama Prabu Bandung, 28 February 2008
Menyaksikan Sebentar ia kau genggam Sekejap kau cium Sepatah kau cinta Gadis……! dalam lipatan tangan Malam ini Perempuan di sisi hitam-putih Gengaman, cium dan cinta Menyaksikan sebuah penghianatan Bandung, 14 February 2008 Rama Prabu
 | Hitut | Feb 13, '08 9:13 PM for everyone |
 Aya nu ngirim tutulisan tentang hitut (kentut), mudah-mudahan urang bisa seuri kusabab seuri teh sehat. Lain kitu? Jalma jujur Jalma nu daek ngaku mun geus hitut Jalma teu Jujur Jalma nu hitut tuluy nyalahkeun batur Jalma belegug Jalma nu nahan hitut mangjam-jam lilana Jalma nu berwawasan Jalma nu apal iraha kuduna hitut Jalma nu Misterius Jalma nu hitut tapi batur euweuh nu nyahoeun Jalma nu sok gugup Jalma nu ujug-ujug nahan hitut mun keur hitut Jalma nu Percaya Diri Jalma nu yakin yen hitutna seungit Jalma nu Sadis Jalma nu hitut bari dibekep ku leungeun tuluy dibekepkeun ka irung batur Jalma nu Isinan Jalma nu hitutna teu disada tapi ngarasa isin sorangan Jalma nu Strategic Lamun hitut sok bari seuri ngagak-gak meh nutupan sora hitutna Jalma nu Bodo Lamun geus hitut tuluy narik napas keur ngagantian hitutna nu kaluar Jalma nu Pedit Lamun hitut dikaluarkeun saeutik-saeutik nepi ka disada tit..tit..tit. .. Jalma nu Sombong Jalma nu sok ngambeuan hitutna sorangan Jalma nu ramah Jalma nu sok resep ngambeuan hitut batur Jalma nu tara gaul Mun hitut sok bari nyumput Jalma nu Sakti Mun hitut bari make tanaga dalem Jalma nu pinter Jalma nu nyirian hitut batur Jalma nu sial Mun hitut kaluar jeung bukur-bukurna. .. Note: Kanggo anu tos maca, mangga direnungkeun ku diri nyalira kinten-kintenna ngagaduhan sipat jalmi numana tah..?
Aku Adalah Langit Sisa Kisah Cinta Aku adalah langit tanpa awan Bingkai-bingkai memutih itu sirna Senyap gelap Aku adalah sisa-sisa tangkai yang kau patahkan Dengan runcing diujung-ujungku memaku Tangan-tangan manusia Aku adalah kisah cinta hanya dilema Tanpa nyanyian, tanpa sepucuk surat cinta Kesendirian, penantian Perjalanan ini segera menepi Aku adalah sonar jiwa Dari perut hiu-hiu putih yang kembali sirna Karena senyap gelap Aku adalah langit sisa kisah cinta Yang sendiriri, kesepian Bandung, 15 Agustus 2007 Rama Prabu
 Raja Atas Diriku Sendiri Kututup kedua mata ini, bukan dengan tangan tapi dengan hati Kubuka semua jendela hati dan kubiarkan namamu hadir disini Di singgasana, ditahta yang telah lama ku ukir dari darah dan tulang Agar kau nyaman jadi permaisuriku Ku kan relakan raga ini, jiwa ini, darah dan nafas-nafas ini Menjagamu disiang dan malam Dari kerling mata-mata nakal, dan siul menggoda Dari rakyat, prajurit dan punggawa-punggawaku Ku tutup kedua mata ini, bukan dengan tangan tapi dengan hati Agar kau nyaman jadi permaisuriku Dari aku yang seorang raja dari segala raja Raja atas diriku sendiri Bandung, 11 Februari 2008 Rama Prabu
| |